a l t e r e g o s e n s i t i f



Sekitar satu tahun yang lalu, pukul setengah delapan malam handphone getar-getar sendiri. Satu pesan masuk dan aku buka “Frisium itu mas, obat anti cemas n untuk pengobatan epilepsi. Oh y frisium juga obat tidur juga tu, terus untuk gangguan irama jantung karena depresi. Haha. Berarti kecemasan anda perlu dikurangi mas!”. Apakah saya depresi? Atau kah epilepsi? Who knows. Sms dari sepupuku yang calon bidan itu bikin saya malah tambah resah, sebegitu parahnya kah ‘kecemasan’ yang sedang saya derita, sampai-sampai ada kalimat ‘irama jantung terganggu’, serem juga ya. Hidup serasa tidak nyaman ketika kamu bisa ‘ngerasain’ detak jantung kamu sendiri di saat seharusnya kamu tidak ‘ngerasain’ (piye iki?), contohnya pas lagi duduk, nonton TV, tidur-tiduran, melamun, duduk lagi sambil ngomongin orang dan sebagainya. 


Coba bayangin waktu kamu nunggu pengumuman kelulusan SMA, malam sebelumnya pasti susah tidur, yang kedengeran cuma suara ‘deg deg.. deg deg’ yang gak berhenti-berhenti malah meninggi dan akhirnya memaksa kita gak tidur sampai pagi, lalu bayangin waktu menunggu giliran untuk ujian pendadaran skripsi atau KTI dan yang paling sakral biasanya yaitu saat mau menyatakan perasaan cinta dan sayang (serta nafsu) kamu yang menggunung itu ke lawan jenis kamu.. ermm.. sesama jenis juga boleh deh, ini kan Free Country (Rempong deh BO’!). Mau bilang I Pity You saja susahnya minta ampun “aku.. mm.. guehh.. mm.. sebenernya.. mm.. nyong.. mm.. rumah kamu ada WC nya nggak?“. Sangat tidak enak kan? and Its happening all the time. Beda kasus kalau kamu habis naik tangga 8 lantai atau maraton Jogja-Solo (buset!), itu normal kalau kamu deg-deg an dan ngos-ngos an tentunya, atau mendadak ketemu lagi sama cewek idola kamu.. ‘oh my Godd.. its HER! Aduh gimana nih, ingusku mbonjrot!’ terlihat panik gila sambil megangin selangkangan (yang cewek tu siapa sih sebenernya?).

Beberapa bulan kemudian, di suatu ruang praktek dokter umum di AMC,
Pasien “dok, saya ini kok deg-degan terus ya dok.. bla bla bla.. kayak nervous gak habis-habis tu lho dok.. bla bla, kalau buat mikir jadi mual dok.. soalnya kemarin abis naik sepeda dok.. tinggi lagi! (antusias sambil mengangkat salah satu tanganya melebihi kepala dokter)” ngomong terus tanpa diminta,
Dokter (memandang bingung ke pasien, lalu mengernyitkan dahi) “mm.. gini mas, jadi nanti saya rujuk ke lantai 2 ya, nanti ketemu dokter Sara, ini saya beri surat rujukan”.
Sampai di lantai 2, pasien disambut perawat yang nunjukin dimana pintu dr. Sara, agak bingung juga karena pasien membaca ‘Sp.KJ’ dibelakang nama dokter itu, Spesialis Kejiwaan. Begitu masuk ke ruangan, langsung diputarkan musik klasik, suasananya syahdu, mistis dan rapuh, seperti benar-benar terapi jiwa.. dokter ramping berkacamata itu mempersilahkan duduk lalu bertanya ke pasien,
“gimana mas, ada yang bisa dibantu?”
“saya stres dok, pengen gantung diri”
“oh iya, ini ada tali”,
“terima kasih ya dok”.
Thats it, bubar! Dua-duanya sakit jiwa!. Akhirnya dokter itu meresepkan Alganax (semacam obat penenang) pada pasien, karena belum puas juga minggu depannya dia datang lagi ke dokter lain, eh dikasih Diazepam (obat penenang lagi). Ah, lama-lama jadi Junkie!.

Minggu kemarin, sepulang jadi instruktrur senam di Srandakan, siang-siang saya mendapati saudara saya (anak laki-lakinya paman) terkulai lemah terkapar tak berdaya di kasur bututnya, habis mencret-mencret. Sepupu saya adalah sarjana muda yang sedang berjuang keras agar cepat dapat kerja. Karena panasnya terlampau tinggi dan lebay “aku wes ra kuatt..”, akhirnya saya angkut naik sepeda motor ke Panti Rapih. Siang itu matahari sedang terik-teriknya, aku merasakan satu onggok daging penyakitan yang saya bonceng itu mau jatuh nggelinding dari motor. Sampai disana kami langsung naik ke lantai 3, mendaftar untuk kemudian bisa ketemu dokter, ditanya-tanyai, lalu dada dan perut dicek pake stetoskop, tadinya mau diinfus tapi nggak jadi, setelah itu baru ambil obat di apotik, obat itu beserta struk-struknya dibungkus dalam satu kantung plastik warna putih dan dia yang bawa. Ada 4 macam obat, 3 obat diminum sebelum makan dan sudah saya ingat-ingat betul sepanjang jalan pulang, ‘begitu sampai kost pokoknya harus langsung minum 3 obat itu lalu beli makan’ saya berkata dalam hati.

Sampailah di pintu rumah kost, dia langsung masuk kamar lagi, dan terkulai lemah lagi di kasur, aku susul ke kamarnya, “coy,, ndi obat e?” or dalam bahasa “coy,, mana obatnya”, dia sudah menutup matanya dan bergumam nggak jelas, aku coba mencari-cari di sekeliling tempat dia tidur, lalu keluar ngecek di cantholan motor, coba ke kamar ku (ya jelas nggak ada), lama saya cari-cari nggak nemu juga, balik lagi ke kamarnya, tanya lagi “dude, where the fuck is your drugs?!”, suara lemah itu menjawab dengan berat “mbohh.. aku lali..” (lali = lupa) lalu terlelap lagi. Enggg.. nguik-nguik, what was that?  ‘iki edan pho yo bocah e..’. Seolah belum percaya atas apa yang saya denger barusan, aku tanya lagi “mana obatnyaaa?”.. jawaban yang sama “akuh gakh tauuuh..”. Ealah, mbooh. 

Aku berdiri sejenak merenungi kata-kata tadi, kemudian terbesit dalam pikiranku, ‘dibuang kemana ya obat-obat itu?, apakah plastik putih itu sedemikian berat ya baginya waktu dibawa sepanjang jalan pulang ke Wirobrajan hingga jatuh ke jalan?, sebegitukah menderitanya sampai putus asa?’. Penasaran! aku keluar kost lagi menyusuri jalan yang tadi dilewati, pelan-pelan, mataku menyapu jalan mencoba menemukan plastik warna putih itu, tapi nihil, aku balik lagi ke kost dengan rasa penasaranku yang kian membara. Apakah benar dia melempar obat-obatnya ke Box sampah pinggir jalan? Atau secara tidak sadar jari jemarinya terbuka dan lepaslah plastik itu? Bener-bener deh, wondering how!. Sampai maghrib akhirnya kita nebus obat lagi ke Panti Rapih, baru setelah itu aku yakin bahwa tadi siang memang obatnya hilang, it’s all gone my friend. Raib ditelan nasib!.

Sarjana muda yang ternyata duitnya tinggal pas 50rb, terpaksa periksa ke dokter dan beli obat seharga 90rb karena panas tinggi dan mencrat-mencret sampai 20 kali bolak balik kamar mandi dalam sehari. Untung yang nganterin bawa duit, dan Alhamdulillah sudah bayar parkir. Sungguh ngenes, kelam sekali nasibmu hai saudara. Perasaan Si Doel Anak Sekolahan nggak gini-gini amat pahitnya. Ingat lagunya Iwan Fals yang dibuat tahun 1981, Sarjana Muda,

“engkau sarjana muda resah mencari kerja, tak berguna ijasahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia sia semuanya”.

30 tahun lalu seorang Iwan Fals teramat prihatin sama fresh graduate kala itu yang kayaknya setengah mati susahnya untuk langsung dapat kerja. Emangnya sekarang nggak? Haha. Mau langsung kerja tanpa koneksi? Ngimpi!. Siapa yang salah? Bercerminlah.

Saat sedang sakit, lidah seperti mati rasa, makan tidak enak, apalagi sampai terkapar opname di salah satu kamar inap rumah sakit, yang diingat cuma dosa, mata nanar memandang ke langit-langit, dunia serasa sedang dibawah tanah, terkatung-katung, mau kencing saja harus bawa-bawa buntelan infus. 

‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’. 

Beruntung bagi kalian yang belum pernah merasakan kasur rumah sakit (semoga jangan), eh tapi aku selalu suka makanan rumah sakit. They’re good. Some dude said sakit itu seperti membersihkan, kita kayak dicuci, dikasih waktu untuk introspeksi, karena begitu kamu sakit kamu baru akan menyadari kalau sehat itu (sangat) mahal. ‘If you’re not sick, doesn’t mean you’re healthy’, rajin-rajinlah olah raga, ikuti saja ritme tubuh, kalau lapar yaa makan, kalau ngantuk yaa tidur, kalau capek ya istirahat, kalau punya pacar ya dijaga, kalau gak punya ya derita kamu! Loh?. 

Biarlah sedikit cerewet, karena ‘Experience is the best teacher’ maka saya bisa mengatakan cucilah tanganmu sebelum ngapa-ngapain, sedia payung sebelum panas dan hujan, pergi ke dokter gigi sebelum sakit gigi, kurangi minyak sebelum kamu berlemak dan pembuluh darahmu menyempit, kurangi gula sebelum kamu kena penyakit gula (diabetes), hindari fast food sebelum gatal-gatal (dasar udik!). Kalau dirasa sedang banyak tekanan sana sini, tekanan pekerjaan, pertemanan, percintaan, tugas sekolah atau kuliah, carilah kasurmu lalu rebahkan badanmu, rilekskan pikiran, tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan, pasang headphone di kedua telinga mu, tutup mata dalam-dalam dan dengarkan Sonata in D Mayor atau ayat-ayat Tuhan mu, just think about nothing. Meditasikan diri, lalu mandi. It’ll help you a lot. Ternyata bukan hanya tubuh kita saja yang perlu sehat, tetapi juga jiwa, perasaan dan pikiran kita. Keep healthy my friends, kalau perlu akupresure setiap bulan! Assalamualaikum!.

Early June 2011. Hi June, Be Nice!

Categories:

2 Responses so far.

  1. like thislah,,nek jarene pesbuk....

    :D

Leave a Reply