a l t e r e g o s e n s i t i f




Ini adalah bagaimana kami berteman dengan baik, sambung menyambung menghubungkan. Itulah Indonesia. Kadangkala di luar logika, tapi memang begini adanya perilaku manusia. 

Saya sedang berada di situasi dimana jutaan umat muslim di luar rumah ini berada. Menunggu berbuka puasa. Mengapa harus ditunggu? Toh nanti maghrib juga. Kami ber delapan sedang merecoki rumah sahabat kami, Yuni. Tugasku sore itu adalah memindahkan mie goreng yang dicampur dengan beberapa potong bakso, cabai merah hijau dan daun kol dari wajan besar ke bejana keramik yang lumayan kecil. Harum mie goreng itu melelehkan ingusku yang sedang membeku. Sebentar lagi, batin ku. Handphone cina di kantong kiri celana jinsku bergetar kuat. Aku berhenti sebentar dan melihat pesan masuk,


Sms dari Dalijo : “Tse, tolong forward ke agib, nomornya aku ilang : Gib, buku dasar2 penulisan karya mas nunung yg dulu kau pinjam dariku masih adakah? Aku butuh bwt skripsi ki.. bisa tak bawa dulu? Thx.”

Aku forward ke Agib. Setelah itu melanjutkan tugas lain yang telah menunggu, yaitu memecahkan seplastik air yang sudah membeku, sebut saja Es Batu! Ngapain susah2!. Ternyata tidak semudah dugaanku, Es itu memang keras sehingga aku meminta Rifky yang memecahkannya. 

“ndle! Es e pecah ke nyohh!” teriak ku

“kamu bisanya apa si Bong??” Prida berteriak kepadaku ganti

Hendra masih setia duduk di sofa mantengin Olga-nya di ANTV, sejak dia masuk rumah dan itu bertahan sampai waktu buka tiba. Kemudian ada getaran lagi di paha kiri, oh balesan..

Sms dari Agib : “Tolong FWD-in ke Dalijo bung! : Ngapuro yo jo, wis suwi banget ketlingsut mbuh nendi.. Buku2 kuliahku koyo Little John yowis pingal nendi ra ngerti.. Coba tak goleki meneh wae yo nek ngono”

Aku forward ke Dalijo. Aku masukin hp ke saku kanan. Sekarang kita lihat di meja makan, selain mie goreng hmm.. ada martabak telor yang menggoda, gorengan (tempe dan tahu isi + cabe rawitnya), sate ayam campuran dengan telor dari Cak Tohir yang kira-kira ada 40 tusuk lebih, satu glontong semangka yang sudah dipotong-potong, beberapa Es kopyor yang dibungkus daun pisang. Air liurku yang mulai mengumpul di bawah lidah jadi tertelan gara-gara getaran hp lagi,

Sms dari Dalijo : Forward ke meneh : o yowes nek ngono gak popo tak jajal tingak tinguk internet sopo ngerti ono. Nuwon yo pak bassist. Thx atse dah mau jadi operator.. rasane koyo jaman telegram

Aku forward ke Agib. Hey, ternyata si empunya rumah dibantu Fitri dan Tanin masih sibuk membuat capcay kuah, baunya nggak kalah harum sama yang di meja. Waktu tinggal 7 menit lagi, Disha sibuk nyampur es buah dengan syrup Marjan, sesekali dia mencecapnya. Ia dan Prida sore itu berprofesi sebagai pencicip masakan, membuatku iri saja. Perempuan, ada kalanya diharamkan untuk berpuasa. Sementara Kiki sedang sibuk menyiapkan piring dan gelas, sejenak aku kepikiran tentang berita di halaman depan koran pagi tadi. 

Pernahkah kamu kelaparan sampai ke sepuluh tulang rusukmu mencuat hingga tak ada lagi yang membatasinya dengan kulit? Perutmu yang terlalu lama membuncit lalu berubah menjadi cekung seperti mangkuk? Pernahkah kamu memikirkan sesamamu yang meninggal karena kelaparan? Aku sendiri baru sore ini. Tidak usahlah ikut memikirkan para pejabat korupsi yang desersi ke luar negeri, kamu berhak untuk apatis. Sebobrok apapun kata orang-orang tentang negara kita, setidaknya kita berada di atas tanah yang kaya akan bahan makanan. Beruntung kita di Jogjakarta, bukan di Somalia. Lalu kamu mau dustakan dengan apa lagi nikmatmu itu?. Khotbahku di dalam kepala terhenti, dengan getar-getar lagi, kali ini di pangkal paha kanan,

Sms dari Agib : “FWD Dalijo.. Oke jo, ngapuro yo.. iki nomerku jo, catet wae.. 0819xxxx”

Aku forward ke Dalijo. “wahh tinggal 2 menit lagi!” seseorang berseru. Lalu kami ber delapan berdiri mengelilingi meja bundar yang berisi aneka macam makanan untuk berpose di depan kamera dari smartphone masa kini, haha. Hidup memang sudah tidak seperti jaman SMP, kala itu berfoto adalah sesuatu yang mahal. Kamu harus punya tustel atau kodak dulu atau setidaknya meminjam untuk bisa mengabadikan kegiatanmu, lalu untuk kamu bisa melihat hasil fotomu kamu harus menunggu kelisnya dicuci dulu baru dicetak. Jadilah foto!. Jangan kaget kalau pas dicetak ada satu jari besar yang menutupi kepalamu, tinggal diingat-ingat saja siapa yang giliran jadi juru foto pas kamu sedang berpose. Dan retth retth.. retth retth..

Sms dari Dalijo : “Fwd maneh.. Santai Gib, iki nomerku juga, catet ya 0818xxxx”

Aku forward ke Agib. Oh sudah adzan maghrib. Selesai berdoa kami menyambar Es buah dengan sirup Marjan, subhanallah nikmat sekali di lidah. Tangan kanan ku sedang mengambil martabak telor, dan refleks seperti diluar kesadaran tangan kiriku sedang merogoh saku jins sebelah kiri,

Sms dari Agib : “FWD : thx yo jo”

Aku forward ke Dalijo. Setelah martabak telor, lalu gorengan, mataku mengarah ke tumpukan sate, tanganku memahaminya dan lidahku sebagai pemuas nafsuku. Tak terkecuali aku, “wah udah kenyang aja niiihh” padahal nasi belum tersentuh. Seusai sholat maghrib berjamaah kami melanjutkan pesta kecil kami, melahap sedapat mungkin sampai lambung kita tidak bisa bernafas lagi. Berhentilah makan sebelum kita kenyang. Petuah bijak ini nampaknya sedang beralih fungsi menjadi Teruslah makan sampai kita kenyang. Eh ada sms,

Sms dari Dalijo : “Frwd back, iyo podo2 gib!”

Oke kami bersembilan kekenyangan. Sambil masih meng-gado capcay kuah, kami melanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai dan melihat acara di ANTV. Masih sama, seolah-olah perempuan yang cantik secara fisik itu harus berkulit putih, berambut lurus sampai punggung, pakai high heel dan rok selutut. Selebritis yang sedang ber akting di depanku itu menjadi semacam produknya, televisi membesar-besarkannya lalu terciptalah stereotype tentang cantik yang menakutkan bagi mereka yang berambut ikal, sebagaian dari diriku berkata ikal itu anugerah. Menakutkan bagi mereka berkulit sawo matang, padahal itu Indonesia yang membuat iri banyak bangsa. Sebagian dari diriku berkata lagi tapi tidak semua orang berpikir seperti itu, sebagiannya lagi mengiyakan.

Aneka makanan di meja bundar sekarang jauh menyusut. Aku baru sadar, sedari tadi sejak pukul 5 aku telah berfungsi juga menjadi operator SMS bagi kedua partner berkaryaku dalam bentuk musik dan rupa. Aku kadang tidak bisa memahami jalan pikir seniman atau kalau Hassan Shadily menulis dikamusnya sebagai arti harafiah dari kata artist. Itulah Indonesia.


Dibby. 3 hari menjelang ultah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 66. Kapan? bersatu?

Categories:

2 Responses so far.

  1. Widhy says:

    wkwkwkwk... streeess kabeeehh.. :P

Leave a Reply