a l t e r e g o s e n s i t i f




Pasien itu unik. Masing-masing memiliki karakteristik. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang membuat kita tiba-tiba merasa empatik, bahkan tergelitik. Pasien, sebagai salah satu pelaku dalam kehidupan medis, hak-haknya sudah dipatenkan dalam Undang-Undang No.29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, pasal 52. Termasuk juga pasien gigi. Mereka berhak tahu tentang segala sesuatunya yang berkaitan dengan perawatan giginya. Disitu akan terjadi komunikasi, dokter gigi seharusnya mendengarkan dengan sepenuh hati. Lalu terjadi tawar menawar solusi. Sampai muncul kesepakatan dan akhirnya dieksekusi.

Suatu subuh, belum lama ini, aku disms salah satu kawan lama Artzex. Kawan lama yang dijumpainya di acara Tribute to Sheila on 7 beberapa waktu lalu. He’s a punk rocker. Pada dua daun telinganya terpasang piercing silver, masing-masing dengan diameter tujuh milimeter. Semua orang di PKU Berbah menengok padanya, termasuk juga para dokter gigi muda yang sedang magang. Petugas di bagian pendaftaran pasien bertanya. 

“Mas, agamanya apa ya?”
“Opo yoo.. Kristen. Nggak papa kan?” jawabnya cuek.

Aku yang berdiri disampingnya hanya tersenyum. Mau Kristen, mau Budha, mau Ateis atau Muslim, jumlah giginya tetap saja 32. Dan kalau pas apes, gigi geraham terakhirnya tumbuhnya miring, menabrak gigi geraham depannya. Jatuhnya pasti akan sama. Menderita.

Tubuh ceking itu berjalan memasuki ruang tunggu. Ia memakai celana panjang jeans hitam ketat yang sudah banyak sobekan disana-sini. Sepatu boot setinggi mata kaki dan kaus warna putih yang sudah berubah menjadi krem. Perubahan warna itu dicurigai akibat perkawinan antara akumulasi buluk dan biakan jamur.

Atribut yang sudah dibawanya itu, juga rambutnya yang berantakan. Semakin menguatkan karakter yang sudah aku reka-reka sebelumnya, apalagi setelah percakapan pertama,

“Aku belum tidur e dari semalam” kata si Punker. 
“Kok bisa?” tanyaku. Meskipun aku sudah bisa menduganya.
“Susah e. Hidupku serasa kebalik sekarang. Nggak jelas” curhatnya.
“Ya harus diperjelas donk..” jawabku sekenanya. Bercanda.

Bukan rahasia lagi kalau kehidupan, terutama yang diseumuranku, mereka nyatakan terbalik. Siang menjadi malam dan malam menjadi pagi. Dia, si Punker ini mengeluhkan gigi atas depan sebelah kanannya kadang-kadang ngilu. Apalagi jika minum air es. Namun, ngilu berhenti begitu minumnya pun berhenti. Aku mencurigainya sebagai pulpitis reversibel. Keadaan dimana pulpa gigi [ruang di dalam gigi yang berisi pembuluh darah dan saraf], sudah mengalami peradangan, tapi masih bersifat ‘kumat-sembuh’, dan waktu ngilunya pun hanya sebentar-sebentar. Aku memintanya untuk ronsen gigi terlebih dahulu. Untuk menguatkan diagnosa.

“Enaknya gimana ini bro. Biar item-itemnya ilang dan nggak ngilu-ngilu lagi” katanya. Setelah kembali dari ronsen.
“Tenang bro. Ini masih bisa diselamatkan” jawabku seraya mengamati hasil ronsennya.

Mendengar itu perlu belajar. Apalagi mendengar dengan sepenuh hati. Aku ingat, satu setengah tahun yang lalu pada saat awal ko-ass, tidak jarang, setelah pulang, aku merasa siangnya kurang mendengarkan. Tapi malah jadi seenak hati. Bahkan ada kata-kata yang menyakitkan yang keluar begitu saja dari mulutku, mentang-mentang pasien kita adalah kawan kita sendiri. Lalu timbul penyesalan. Meskipun mereka kerabat kita. Patient will be patient. Dan si Punker ini terus saja berbicara.

Entah bagaimana perputarannya, pembicaraan kami berpindah dari penambalan gigi ke Jacket Crown. 

“Woh tenan e bro?? Bisa tho bikin gigi warna silver?” tanyanya mengagetkan. Sumringah.
“Ya bisa. Tapi nanti kita coba tambal yang sewarna gigi dulu. Baru nanti kita pikirkan selanjutnya..” kataku mencoba memberi pengertian.

Aku mulai mencium gelagat aneh. Kecenderungannya semakin berat sebelah. Pupil mata si Punker sudah berubah menjadi silver. Pikirannya hanya mahkota jaket. 

Ia sudah duduk di kursi gigi.

“Bro, njaluk wedang putih. Garing tenan telakku.” Pintanya.

Tidak tidur sepanjang malam memang mengacaukan metabolisme. Akibatnya di waktu terjaga menjadi haus berkepanjangan. 

Setelah selesai menenggak segelas air putih. Aku mulai mengecek giginya.

“Wes siap bro?” tanyaku.
“Siap lah. Nurut saja.. mau diapa-apain terserah” jawabnya. Asal.

Jadi, di gigi seri kedua sebelah kanan atas dan gigi taring disebelahnya ini sudah ada jejas warna hitam sebesar kutu. Tepat di leher gigi. Dan tentu ketika dilakukan eksplorasi, sudah ada lubang didalamnya yang cukup curam. Keadaan ini disebut Karies. Bagian gigi yang berganti warna menjadi hitam patologis, terdeteksi sudah terinfeksi oleh racun-racun bakteri. 

Prinsip penambalan gigi adalah menghilangkan semua jaringan karies atau yang sudah terinfeksi, tanpa kecuali. Sehingga, nantinya tidak ada lagi bakteri yang menggerogoti.



Dan benar, ternyata setelah dibersihkan menggunakan mata bur yang dipasangkan pada hand-piece. Kavitas [lubang gigi] yang ada memang cukup besar. Dengan kedalaman seperti itu, biasanya pasien akan mengeluhkan ngilu-ngilu pada saat proses pembersihan jaringan gigi yang terinfeksi. Jika tidak hati-hati, mata bur tadi bisa menembus pulpa gigi. Akibatnya mungkin nanti pasien akan mengambil benda apapun didepannya dan memukulkannya ke kepala dokter gigi.

“Besar juga ya lubangnya..? ngilu-ngilu e..” katanya sambil melihat cermin.
“Oh lha iya.. tapi kalau dibiarin nggak ngilu kan?” tanyaku.
“Enggak.. terus ni mau diapain? Tanyanya ganti.
“Tak tambal dulu semuanya yang sewarna gigi.. nanti setelah itu dilihat dengan seksama.. mungkin nanti bisa jadi pertimbangan, mau tetap mau pake Jacket Crown apa pakai tambalan aja..” 

Entah kenapa hatiku berkeberatan untuk membuatkannya Mahkota Jaket. Alasan yang kuat, karena gigi seri keduanya itu masih bagus. Bagian yang terinfeksipun hanya sepertiga dari keseluruhan luas permukaan gigi. Tapi sebagian diriku yang lain, berkata sebaliknya. 

“Yowes bro gek ditambal.. “ katanya membuyarkan lamunanku.

Si Punker ini adalah tipe pasien yang kooperatif. Enak untuk diajak kerjasama, sehingga perawatannya pun alhamdulillah menjadi lebih lancar. Setelah penyinaran Resin Komposit 40 detik yang terakhir, dan dilakukan penghalusan, aku menyerahkan cermin lagi padanya. Biar dia tahu, hasil perawatan yang sudah dilakukan.



“Weh... apik yo broo.. jadi sewarna gigi lagi..” katanya senang.
“Lha gimana.. masih tetap mau dibuatkan mahkota jacket?” tanyaku menggoda.

Ia berpikir sejenak. Sambil mringis-mringis mengamati tambalan giginya didepan kaca.

“Itu permanen lho.. sampai nikah nanti ya tetap gitu giginya kalau mau di-Jakcet” Kataku. Masih mencoba memprovokasi.

Ia mulai bimbang.

“Tapi kalau misalkan diselesaiin siang ini bisa langsung jadi nggak jaketnya?” katanya. Kebimbangannya seketika runtuh. Provokasiku kurang kuat.
“Ya bisa aja bro.. nanti tak cetak giginya.. terus tak keciilin ukurannya.. cetak lagi.. baru kirim ke lab untuk dibikinin mahkota jaket” jawabku.

Perutku sudah mulai complain.

“Oh gitu.. emang berapa hari jadinya? Tanyanya lagi.
“Ya sekitar 2-3 hari bro. Eh makan dulu yok!” sembari berdiri.
“Oke.. siap!” bangkit dari kursi gigi.

---

Ia masih menikmati bakaran rokoknya. Aku sendiri membaca koran. Porsi Lothek Bu Ema ini memang selalu berlebih. Tapi Lotheknya lah yang paling terkenal di saentro Berbah. Terutama kelurahan Krikilan. Kami merasakan lambung kami penuh sesak oleh ketupat dan sayuran. Gusi si Punker yang sebagian berwarna hitam, hipotesaku mengatakan, bahwa nikotin yang ada dalam tembakau itu lah yang merangsang sel-sel pigmen membelah menjadi lebih banyak. Sehingga warnanya menjadi semakin gelap. Smoker’s Melanosis, begitu mereka menyebutnya. Analoginya, kalau orang kekurangan pigmen itu sebutannya albino, sedangkan jika kelebihan itu negro.

Tahapan pertama yang aku lakukan adalah mencetak giginya dengan sendok cetak. Para dokter gigi muda yang magang sangat tertarik dengan kasus ini. Mereka masih belum percaya dengan kemantapan si Punker untuk mengganti giginya dengan warna silver.

“Sayang lho mass.. giginya masih baguss..” kata salah satu dokter gigi muda.
“Iya mas.. mending gitu aja udah oke kok” satunya menimpali.
“Ini baru satu mbak. Rencananya mau tak bikin silver semua!” jawabnya ngaco. Diiringi tawa para dokter gigi muda.

Aku mulai berpikir. Bahwa ini juga merupakan hak pasien. Kita sudah memberikan informasi dan tentu mengedukasi apa-apa yang patut ia terima. Akan tetapi kita juga harus mengiyakan apa yang pasien inginkan. Selama masih wajar dan bisa dipertanggungjawabkan. Lagipula ini adalah bagian dari proses kreatif. Dokter gigi, sebagai pekerja seni.



Itu adalah gambar sendok cetak yang akan diisi alginat. Bayangkan adonan roti dalam loyang, tapi dalam beberapa detik bisa langsung mengeras kayak malam. Setelah cetakan dalam mulut terbentuk baru diisi gips.

Bunyi desing hand-piece berkombinasi dengan mata bur memenuhi seisi ruangan. Kompresor tiap beberapa menit ikut berdengung, memompa angin untuk kursi gigi. Aku mulai bekerja mengecilkan gigi seri yang 1 jam lalu baru selesai aku tambal. Setiap pergantian mata bur, aku merendamnya dalam alkohol 70%, agar tetap terjaga kesterilannya. Aku dibantu salah seorang dokter muda untuk memegangi suction-alat untuk menyedot air ludah yang menumpuk di mulut. Keringat di punggungku dibuat dingin oleh kipas angin yang terus berputar dibelakangku.

Selain urusan tambal-menambal gigi. Bagian prostodonsi, atau urusan gigi-gigi palsu adalah favoritku. Tapi khusus untuk mahkota jaket saja yang menjadi terfavorit.  Dan setelah hampir satu jam, proses pengecilan gigi itu pun selesai. Proses ini diiringi dengan conversation sepihak,

“Udah ngilu belumm?” tanyaku beberapa kali.

Si Punker hanya menggelengkan kepalanya sedikit, dengan mulut menganga. Sampai pas aku selesai, ia sudah mulai terasa ngilu-ngilu sedikit. Ngilu terjadi karena dentin [lapisan yang melapisi pulpa] sedikit terbuka, sehingga memberi rangsangan ke saraf di pulpa itu sendiri. Maka dari itu aku menyisakan sedikit email [lapisan gigi paling luar/yang terlihat kasat mata] untuk melindungi dentin. Selama pengerjaan ini, kami ditemani Randevu, milik Dharma yang saya lupa sudah berotasi berapa kali di Winamp laptopku.



Selesai pengecilan. Si Punker malah ketawa-tawa.

“Kok jadi lucu yaa? Kalau misalkan dikecilin semua aja gimana? Haha”
“Yoo nggak papa.. tapi mukamu nanti jadi wagu.. kontur gigi ini kan sudah disesuaikan sama bentuk mukamu.. saingan sama limbat nanti!”
“Hahaa. terus gimana nih? Udah berarti ya? Bisa langsung pulang?” sudah mau berdiri.
“Weh belum broo. Tak cetak lagi, buat nanti dikirim ke lab..” aku memaksanya duduk lagi.

Kembali lagi kubikin adonan. Sebenarnya bukan aku sih, tapi dokter gigi muda yang mengasisteni. Aku meminta si Punker untuk membuka mulut, memasukkan sendok cetak yang sudah terisi alginat basah. Dan menunggunya sampai mengeras. Baru setelah itu dilepas dari dalam mulutnya. 

Tepat pukul tiga sore si Punker berpamitan. Aku mengantarkannya sampai parkiran. Aku berjanji akan menghubunginya jika Jacket Crown itu jadi. Malam itu aku langsung pergi ke Age Lab, membawa hasil cetakan gigi, dan memesan paling lambat jadinya tiga hari.

Kamis pagi.. [3 hari kemudian]

Sekitar jam 10, karena kesasar, sang Kurir lab baru sampai PKU. Tapi tidak masalah karena pasien juga belum datang. Aku yang beberapa hari sudah penasaran setengah mati langsung membuka bingkisan yang dibawakan oleh sang kurir.



Aku memamerkannya pada dokter-dokter gigi muda yang sedang berkumpul di ruang tunggu.

“Keren kan?” tanyaku. Ceria.
“Apanya yang keren mas? Beda warna gitu kok..” satu jawaban dari dokter gigi muda cewek. Mungkin dia konservatif.

Tapi menurutku itu keren. Ke 14 dokter gigi muda itu memandanginya dengan takjub. Permukaannya licin.

“Wah ini bisa buat ngaca nih giginya!” salah satu berseloroh.
“Mas. Ini pasiennya emang minta gini yaa?” tanyanya lagi masih belum percaya.
“Mas itu terus kalau kondangan gimana??” salah satu lagi berseru dengan polosnya.
“Aku nggak mau mas kalau disuruh jadi pacarnya..” dokter gigi muda yang lain tertawa.

Kalau kalian perhatikan, gigi depannya mas Erix Soekamti yang atas juga Jacket-an semua. Metal. Bahkan Jacket di kedua gigi seri sentralnya malah berwarna emas. Meskipun tetap berbahan dasar logam. Dulu, pas ko-ass aku juga pernah mengerjakan kasus serupa. Gigi taring sebelah kiri atas milik mas D’mex Cats Rider. Tapi waktu itu aku berduet dengan Arina, ia masih kurang requirement kasus Jacket sebagai salah satu syarat ujian, jadi bukan sepenuhnya karyaku. Meskipun mengerjakannya di kursi gigiku, juga dengan direksiku, tapi aku hanya membantunya sedikit. FYI, they both were/are also Punk Rocker. Dan akhirnya jam 10.30, si Punker sampai juga di PKU. Kali ini ia memakai celana pendek selutut. 

“Wah bro. Aku habis digigit TomCat!” sambil memperlihatkan lipatan di lutut pahanya.
“Emang masih ada pho gitu-gituan?” tanyaku. Bego.
“Ini lho.. beneran. Aku masih hafal bentuknya. Dan hasil gigitannya pun merembet.. sini ada klinik umum kan? Sekalian nanti deh..” rapelnya.
“Iya ada.. nanti sekalian aja.. nah masbro, lupakan dulu perihal TomCat. Karena ini lebih krusial. Mendebarkan” pidatoku padanya. Seraya memamerkan model gigi tadi.
“Wow...” matanya berkaca-kaca. Punk rocker lebay.
“Bisa buat bercermin ya giginya..” gumamnya lagi. Melting.
“Sudah siap untuk punya gigi baru? Mari kita eksekusi!” aku menuju kursi gigi.
“Air putih dulu broo..!” aku hampir lupa kebiasaannya.

---

Aku merendam sebentar Metal Jacket Crown-nya di alkohol 70%, sembari mengisolasi gusi di sekitar gigi dengan gulungan kapas. Dokter gigi muda sudah bersiap mangaduk Semen Ionomer Kaca [semacam bahan untuk lebih merekatkan Metal Crown pada gigi], adonannya, jika sudah jadi, bentuknya menyerupai ingus tapi jauh lebih kental, kayak lem Fox lah. Kemudian, ku-lumeri permukaan gigi kecil tadi dengan Dentin Conditioner dan Chlorhexidine 2% [semacam anti-septik], secara bergantian. Baru setelah itu adonan tadi dimasukan ke dalam Jacket Crown. Mulut si Punker sudah membuka. Dan insersi hari itu pun berhasil. Ia tidak merasakan ada ganjalan dan tekanan. Puji Tuhan!.



“Duh kok mukaku jadi tambah tua!?” katanya sambil tertawa-tawa. Lebih lebar.
“Hahaa.. ho’oh! kayak ibu-ibu kuno yang jualan beras di pasar itu lho! Tapi tetep metal selamanya!” kataku ‘membesarkan’nya.
“Waaahhh! Nggak papalah dari pada giginya kayak habis kena granat!” ia berseloroh. Tertawa lagi.

Senangnya melihat pasien bahagia. Kita jadi merasa sedikit berguna. Ia berpamitan ke klinik sebelah, ke dokter Alfa, untuk memeriksakan gigitan TomCatnya.

“Sekali-sekali ngabisin duit untuk merawat diri! Haha” katanya.

Tapi memang, baru kali itu si Punker ini ke dokter gigi dan dokter Umum untuk memeriksakan diri. Aku tidak tahu motifnya tentang pemilihan Metal Crown sebagai akhir dari perawatannya. Tapi seperti yang sudah aku ungkapkan sebelumnya. Pasien itu unik. Punya karakter dan pemikiran masing-masing. Terlebih jika memiliki otak kanan yang berlebih. Mau kondangan kek, nikahan kek, itu bisa dipikir nanti. This is what we called Art.



Siang itu. Punk Rocker yang berdomisili di jalan Godean itu, dan tak pernah mengeluh ketika jauh-jauh terbang ke Berbah, pulang dengan senyum merekah. Padahal dengan perjalanan darat, bisa menghabiskan kurang lebih 45 menit. Kepercayaan, membuat percaya dan bisa dipercayai. Tidaklah mudah, butuh proses dan banyak kesabaran. Dan gigi metalnya, sebentar lagi akan menjadi Brand atas dirinya. 

“Kae lho seng untune nge-PUNK!”


Dibby. PKU Berbah. Middle of May. 2012

Categories:

2 Responses so far.

  1. jembuooooot jo postinganmu..!!

  2. itu pas gigi dikecilkan pasien langsung pulang kh dok, knpa ga dibuat gigi tiruan sementara dok, agar gigi sblahnya tidak bergeser?

Leave a Reply